----- SATUAN POLISI PAMONG PRAJA (SATPOL PP) KOTA TARAKAN, Alamat : Jalan Halmahera depan taman oval 1 ladang telp. / fax : (0551) 32492 Kel. Pamusian Kecamatan Tarakan Tengah, KOTA TARAKAN - KALIMANTAN UTARA (kodepos 77121). EMAIL : polppkotatarakan@gmail.com -----

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label WARGA TERLANTAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WARGA TERLANTAR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2013

PERSOALAN ORANG TERLANTAR DI KOTA TARAKAN





Kebanyakan Tenaga Kerja Pelarian, Kantor Satpol PP jadi Penampungan


#POLPPTARAKAN_INFO :

Belakangan ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tarakan mulai disibukkan dengan persoalan orang terlantar. Terhitung, dalam bulan ini saja sudah ada 4 kasus yang melibatkan hampir 40 orang terlantar. Apa saja penyebab orang sampai terlantar di Kota Tarakan, dan seperti apa penanganannya?

SEBAGAI kota transit, tentunya Tarakan memiliki akses penghubung yang cukup baik dari dan ke berbagai daerah di Kalimantan Timur bagian utara. Luasannya yang jauh lebih kecil dari daerah tetangganya seperti Kabupaten Bulungan, Nunukan, Malinau dan Kabupaten Tana Tidung (KTT), bukanlah menjadi hal yang setara apabila melirik dari segi pembangunan dan infrastruktur. Karena kondisi itulah yang menjadi alasan kenapa banyak orang yang mengaku terlantar datang ke Tarakan.

Salah satu contohnya adalah Mawardi, 45 tahun. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mengaku kabur dari tempat kerjanya yang berlokasi di Kabupaten Malinau, dan berniat pulang ke kampung halamannya melalui Tarakan. Akan tetapi karena tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan perjalanan, bapak 4 anak itu jadi terlantar. “Kabur dari tempat kerja karena tidak cocok gaji pak, awalnya dijanji gaji Rp 2 juta lebih sebulan, tapi malah dikasih Rp 32 ribu perhari,” ucap Mawardi yang ditemui di Kantor Satpol PP, belum lama ini.

Beralasan seperti itu, Mawardi mengaku meninggalkan perkebunan kelapa sawit tempatnya bekerja karena sudah tidak tahan dengan “sakitnya” pekerjaan yang dinilainya tidak seimbang dengan pendapatannya. Selain itu, teman-temannya yang lain, kebanyakan sudah mendahuluinya pergi meninggalkan pekerjaannya itu. “Saya kerja hanya 2 minggu pak, uang saya tadinya itu cuma Rp 200 ribu lebih, sekarang sudah habis buat ongkos dari Malinau sampai ke sini,” ujarnya.

Merasa dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Mawardi mengaku mendatangi kantor Polisi Resor (Polres) Tarakan dengan harapan bisa mendapat bantuan. Akan tetapi pihak polisi yang ditemuinya waktu itu mengarahkannya ke kantor Satpol PP. “Polisi pak yang suruh ke sini, tadi naik angkot dibayarkan sama pak polisi itu,” kata Mawardi.

Persoalan seperti ini bukan hanya dialami Mawardi saja, beberapa waktu lalu seorang lelaki bernama Luki (35) juga diantar diantar salah seorang warga ke kantor Satpol PP, karena merasa terganggu dengan keberadaan Luki yang acapkali datang ke tempat usahanya. Menurut keterangan Luki, dirinya adalah tenaga kerja asal Jawa Barat yang mengerjakan sebuah proyek pembangunan siring dan drainase di Kabupaten Berau. Akan tetapi dirinya bukanlah tenaga professional, melainkan hanya buruh kasar dengan upahan harian sebesar Rp 50 ribu.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya itu, dirinya yang semula bekerja bersama 4 orang rekannya, memilih untuk pulang ke Jawa Barat. “Teman saya sudah pulang semua, saya ditinggalkan sendiri. Uang saya sudah habis pak, waktu itu cuma cukup buat ongkos dari Berau ke Tarakan,” ucapnya.
Lain halnya dengan persoalan 36 orang pekerja proyek perumahan milik Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di wilayah perbatasan, yakni Kecematan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Menurut Sudomo yang merupakan orang yang dituakan di kelompok 36 orang itu, ia dan rekannya merasa diterlantarkan lantaran upah mereka ditahan oleh perusahaan yang memperkerjakan mereka. “Kami disuruh datang ke Tarakan untuk bertemu dengan “bos” yang mempekerjakan kami, untuk menyelesaikan persoalan gaji kami yang ditahan. Akan tetapi sudah 2 hari ini, “bos” itu belum menemui kami, sementara uang kami sudah menipis,” terangnya.

Menyikapi persoalan orang terlantar yang kerap diajukan ke pihaknya, Kepala Satpol PP Kota Tarakan, Dison SH mengemukakan bahwa selama ini pihaknya hanya mengamankan, sembari membantu mencarikan solusi terhadap persoalan orang terlantar itu. Biasanya, setelah medapatkan informasi dari orang-orang yang mengaku terlantar itu, baik itu daerah asal dan penyebabnya bisa sampai ke Tarakan, Satpol PP akan mengkoordinasikannya dengan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker).“Biasanya kita dalami dulu, kalau dia ada gangguan jiwa, kita bawa ke Ruang Teratai (RSUD Tarakan). Tapi kalau benar orang terlantar, kita limpahkan ke dinas sosial atau kita hubungi paguyubannya,” terang Dison.
Dison menambahkan, bagi masyarakat atau pihak-pihak yang menemukan atau menjumpai orang terlantar seperti itu, sebaiknya diarahkan langsung ke Dinsosnaker (Dinas Sosial dan Tenaga Kerja) Kota Tarakan. Lantaran untuk saat ini, pihaknya tidak memiliki cukup tempat untuk menampungnya, sementara pihak Dinsosnaker memiliki shelter khusus untuk menampung orang terlantar.(***/c1)


Sumber Kutipan :
Terbit Sabtu, 23 Februari 2013

LAYANAN PENGADUAN SETIAP HARI 1 X 24 JAM 
SATPOL PP KOTA TARAKAN : 
TELEPON (0551) 32492 





BLOG INI DAPAT DIAKSES MELALUI
HANDPHONE (MOBILE VERSION)
KLIK DISINI : MOBILE VERSION
Readmore »

Kamis, 30 Agustus 2012

SEORANG PRIA TERLANTAR, DIAMANKAN SATPOL PP KOTA TARAKAN



#POLPPTARAKAN_INFO :


Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP ) Kota Tarakan mengamankan seorang pria terlantar berinisial FS asal Palembang Sumatera Selatan. FS mengaku sebelum terlantar , ia sempat bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan kelapa sawit di Sabah Malaysia selama 5 tahun, hanya saja selama kurun waktu tersebut perusahaan tidak pernah membayar gaji secara penuh tanpa alasan yang jelas.
Kepala Kantor Satpol PP Kota Tarakan, Dison SH mengatakan, FS ini sudah pindah ke Nunukan dan bekerja selama 1 tahun sebagai pemegang kunci penginapan.Adapun Tujuan FS datang ke Tarakan adalah untuk menemui saudaranya, yang ada di sekitar Kampung 6, sekaligus mencari pekerjaan di Kota Tarakan.
Dison SH menambahkan, sebelumnya FS sudah ditangani pihak Polres Tarakan Timur, Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja, dan beberapa instansi terkait lainnya. Namun semua instansi tersebut tidak ada yang mau menampung FS karena berbagai alasan. Untuk sementara waktu, FS ditempatkan di Kantor Satpol PP hingga menungggu proses lebih lanjut. (git/prs)


Sumber Kutipan :
Terbit 29 Agustus 2012

LAYANAN PENGADUAN SETIAP HARI 1 X 24 JAM 
SATPOL PP KOTA TARAKAN : 
TELEPON (0551) 32492 ATAU 
SMS (PESAN SINGKAT) KE 05515500655 





BLOG INI DAPAT DIAKSES MELALUI
HANDPHONE (MOBILE VERSION)
KLIK DISINI : MOBILE VERSION
Readmore »

Kamis, 19 Januari 2012

50 PERSEN ORGIL PERNAH MASUK RUANG TERATAI



#POLPPTARAKAN_INFO :


Masih ditemukan orang gila (orgil) atau sakit jiwa yang berkeliaran di jalan-jalan protokol di kota Tarakan, tentu memberi pemandangan yang tidak baik. Kondisi ini, kata Mezak JB.SH, Kepala Seksi Penertiban dan Penyidikan (tibdik) Satpol PP Tarakan, memang sudah menjadi perhatian mereka. Di tahun 2011 lalu, sedikitnya ada 34 orang gila yang sudah mereka tangkap dan diserahkan ke ruang Teratai (ruang khusus kejiwaan) di RSUD Tarakan.

“Mereka ini rata-rata tidak ada keluarganya. Jadi ketika dikeluarkan dari rumah sakit, mereka kembali lagi ke jalan,” kata Mezak, kemarin. Menurut Mezak, untuk menertibkan orang gila yang berkeliaran di lapangan, selama ini pihaknya bergerak berdasarkan laporan dan pengaduan dari masyarakat yang merasa resah dengan keberadaan mereka. “Kalau ada laporan dari masyarakat, tentu kita langsung turun ke lapangan untuk menindaklanjuti dan kita bawa ke rumah sakit,” ujar Mezak.

Atau, penemuan orang gila dari hasil patroli rutin Satpol PP yang melihat adanya indikasi gangguan ketertiban yang disebabkan orang gila. “Memang ini menjadi permasalahan baru yang harus diperhatikan agar tidak menjadi image yang buruk di masyarakat,” tuturnya.

Terakhir, pada Selasa kemarin, Satpol PP sempat mendapat laporan adanya gangguan ketertiban yang dilakukan orang gila di kawasan Kusuma Bangsa sekitar Kuburan Cina. Namun setelah didatangi, orang gila tersebut keburu kabur. Diakuinya, penanganan khusus terhadap orang gila ini, pemerintah kota memang memiliki anggaran khusus. Namun untuk apa saja anggarannya, Mezak tidak mengatakan apa-apa mengingat pos anggaran tersebut berada di bagian sosial. “Kami hanya menertibkan di lapangan, soal anggaran saya tidak tahu,” ujarnya.

Namun demikian, sambung Mezak, di tahun 2011 lalu pemerintah kota sudah beberapa kali memulangkan orang gila yang masih memiliki keluarga dekat. Di antaranya satu orang telah dipulangkan ke Samarinda dan satu orang lagi dipulangkan ke Malinau dengan menggunakan dana pemerintah. “Yang dipulangkan itu adalah mereka yang masih bisa berkomunikasi, jadi kita bisa tahu dimana rumah mereka,” jelasnya. Masih dikatakan Mezak, rata-rata orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan di Tarakan ini adalah wajah-wajah lama. Bahkan hampir 50 persen dari mereka sudah pernah ditangkap dan beberapa kali masuk di ruang Teratai RSUD namun melarikan diri dan kembali ke jalan.(ddq)


Sumber Info (Kecuali Gambar Ilustrasi) :
Terbit Kamis, 19 Januari 2012

LAYANAN PENGADUAN SETIAP HARI 1 X 24 JAM 
SATPOL PP KOTA TARAKAN : 
TELEPON (0551) 32492 ATAU 
SMS (PESAN SINGKAT) KE 085247618394 

BLOG INI DAPAT DIAKSES MELALUI
HANDPHONE (MOBILE VERSION)
KLIK DISINI : MOBILE VERSION
Readmore »

Senin, 12 September 2011

TIDUR DI KOLONG JEMBATAN, DOMI DIPINDAHKAN SATPOL PP



#POLPPTARAKAN_INFO :


Satu orang terlantar kembali diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) beberapa waktu lalu. Yakni Domi, pria berumur 35 tahun yang selama ini menghuni kolong jembatan di bilangan Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Hotel Taufiq. Berdasarkan laporan warga sekitar yang merasa prihatin dengan kondisi pria yang diketahui berasal dari Papua Jayapura ini, Domi sudah menghuni kolong jembatan depan Hotel Taufiq sekitar 2-3 minggu belakangan.
Kronologisnya, sekitar dua minggu lalu warga menemukan Domi yang tinggal di bawah kolong jembatan dengan kondisi lemah. Warga kemudian melaporkan kepada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) agar diamankan dan diberikan bantuan. Laporan ini kemudian diteruskan ke Satpol PP yang selanjutnya dilakukan koordinasi dan menjemput Domi dikolong jembatan. “Setelah ditanya-tanya ke warga sekitar, kemudian kami cek di lokasi, ternyata yang bersangkutan berada di bawah jembatan depan Hotel Taufiq, Jalan Yos Sudarso. Saat kami temukan Ia sedang dalam kondisi tidur dan langung kami bawa ke kantor,” terang Dison SH kepada Radar Tarakan.
Saat dibawa ke markas Satpol PP di Ladang, Domi dalam keadaan sakit parah dan badan yang kurus. Domi juga tidak bisa berjalan dan sulit berdiri saat akan dibawa, sehingga harus dipapah petugas. Saat ditanyakan kondisinya, Domi mengaku sedang sakit perut, sakit di bagian belakang pinggang dan tidak bisa makan. Jika dibiarkan, maka kondisi Domi akan semakin parah. Olehnya itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan Satpol PP kemudian berkonsultasi dengan Dinsosnaker untuk membawanya ke Rumah Sakit Umum.
“Yang jelas dia ini terlantar. Setelah kami konsultasi dengan Dinsosnaker, kami langsung membawanya ke rumah sakit untuk ditangani dan diberikan pengobatan. Dari rumah sakit kemudian meminta kami dan Dinsosnaker ke Unit Gwat Darurat (UGD) terkait dengan biayanya. Setelah dibawa, sekarang ini biayanya ditanggung oleh dinas sosial baik perawatan maupun inapnya dan obat-obatan,” kata Dison.
Setelah dilakukan diagnosa, dokter memastikan Domi terserang penyakit malaria dan lever dan dilakukan perawatan di rumah sakit selama 4 hari untuk memulihkan kondisi. Setelah 4 hari dirawat kemudian dokter sudah menyatakan dia bisa keluar dan Satpol PP kembali membawanya ke markas sejak Jumat lalu hingga hari ini. Rencananya, Domi akan kembali dipulangkan ke kampung halamannya di Jayapura, Papua, setelah dilakukan koordinasi dengan Dinsosnaker. “Pemulangan koordinasi dengan sosial, setidaknya Senin besok (hari ini, Red),” ungkapnya.
Menurut informasi yang diterima Satpol PP langsung dari Domi, Ia awalnya kerja di perusahaan kayu di Samarinda. Karena kondisinya sakit-sakitan dan semakin kurus, kemudian Ia diingatkan oleh temannya agar istirahat kerja. Ia pun mendengar saran tersebut dan lantas berhenti bekerja. Lalu Ia bersama temannya sekitar 3 orang menuju Tarakan. Sesampainya di Tarakan, ke 3 teman lainnya menuju Malaysia untuk mencari pekerjaan, sementara Domi tetap bertahan di Tarakan untuk mencari kerja di sini. Hingga saat ini Domi belum juga memperoleh pekerjaan dan malah kondisi kesehatannya semakin memprihatinkan. Di Tarakan ini Ia tidak memiliki keluarga.
“Dia sudah berada di Tarakan sekitar 1 bulan lalu dan tinggal di kolong jembatan sekitar 2-3 mingguan. Ini hasil keterangan yang bersangkutan. Selama tinggal di bawah jembatan dia juga jarang makan, makanya kondisinya sangat lemah. Selama di Satpol PP sejak awal pulang dari rumah sakit hingga saat ini anggota-anggota Satpol PP yang berikan makanan,” tutup Kepala Satpol PP ini. (jnu)


Sumber Kutipan :
Terbit Senin, 12 September 2011

LAYANAN PENGADUAN SETIAP HARI 1 X 24 JAM 
SATPOL PP KOTA TARAKAN : 
TELEPON (0551) 32492 ATAU (0551) 5500655 
SMS (PESAN SINGKAT) KE (0551) 5500655 

BLOG INI DAPAT DIAKSES MELALUI HANDPHONE (MOBILE VERSION)
KLIK DISINI : MOBILE VERSION
Readmore »

Selasa, 03 Mei 2011

DINSOSNAKER BANTU DUA KELUARGA TERLANTAR




Dideportasi dari Malaysia
Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) sejak Sabtu (30/04) kemarin memberikan bantuan kepada dua keluarga terlantar di Tarakan. Hal ini dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat bahwa kedua keluarga ini sangat membutuhkan pertolongan.
“Bantuan yang kami berikan kalau untuk keluarga yang 3 anak dengan memberikan pekerjaan, karena memang saat kami tawarkan akan dipulangkan mereka menolak. Mungkin di Jawa tempat asalnya sudah memiliki masalah,” ujar Kepala Dinsosnaker Tajudin Tuwo.
Keputusan untuk membatalkan memulangkan keluarga ini juga dikarenakan suami istri tersebut memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan.
“Kita akan pekerjakan, jadi sebelum mereka menerima gaji pun akan kita bantu dengan memberikan mereka makan dan tempat tinggal,” jelas Tajudin.
Selain sepasang suami istri dan tiga anak ini, Dinsosnaker seperti yang dikatakan Tajudin juga akan membantu seorang wanita dengan satu anak. “Tetapi saat ini ibu satu anak ini sedang mengalami depresi dan sering berbicara sendiri, mungkin karena masalah rumah tangganya. Jadi akan kita pantau perkembangannya dan jika nanti sudah bisa kita ajak berbicara akan kita tanyakan apakah akan kita pulangkan atau tidak,”terangnya.
Depresi yang dialami ibu satu anak ini, dituturkan Tajudin karena pasca dipulangkan secara paksa dari Malaysia, TKI asal jawa ini juga ditinggal oleh suaminya. “Ibu ini ditinggal suaminya, terus malah tinggal dipinggir jalan. Ditemukan Satpol PP langsung diinapkan di Satpol satu malam dan baru tadi pagi kita ambil dan kita rawat,”ujarnya.
Mengenai akan bekerja seperti apa, Tajudin pun mengaku belum berani menyampaikan. Pasalnya belum ada komunikasi dengan ibu satu anak itu.
“Kita belum ada berbicara tentang seperti apa kelanjutannya. Tetapi nanti akan kita tawarkan yang terbaiklah buat ibu ini dan anaknya. Dan kalau memang mau bekerja akan kita tanyakan lagi pekerjaan apa yang bisa dilakukan. Jadi nanti mudah kita carikan pekerjaan,”ungkapnya. (saf)

SUMBER KUTIPAN :
KORANKALTIM.CO.ID - SELASA, 03 MEI 2011

BLOG INI DAPAT DIAKSES MELALUI HANDPHONE (MOBILE VERSION)
KLIK DISINI : MOBILE VERSION
Readmore »

Minggu, 28 November 2010

DINSOSNAKER TARAKAN REHAB PENAMPUNGAN TKI DAN ORANG TERLANTAR



Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Tarakan berencana tahun 2011 akan merehabilitasi bangunan untuk penampungan orang-orang telantar, termasuk penampungan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi negara tetangga.

Rencana rehabilitasi bangunan yang terletak di samping kantor Dinsonaker Tarakan di Jalan Teuku Umur ini akan diperluas menjadi 5 kamar, sehingga dapat dihuni sebanyak 10 orang sampai 50 orang. Rumah yang akan direhabilitasi ini disediakan fasilitas air, listrik, tempat tidur, kasur dan bantal.

"Kami lakukan rehabilitasi rumah penampungan orang telantar, karena ini bentuk komitmen Pemkot Tarakan untuk membantu mereka yang telantar selama berada di Kota Tarakan," ujar Kepala Dinsosnaker Kota Tarakan Tajuddin Tuwo, Minggu (28/11/2010).

Tajuddin berharap dengan adanya rencana rehabilitasi bangunan penampungan orang telantar dan TKI anggaran yang diajukan segera diketuk DPRD Tarakan.(Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Junisah)


SUMBER KUTIPAN (KECUALI GAMBAR ILUSTRASI) :
MINGGU, 28 NOVEMBER 2010


SATPOL PP KOTA TARAKAN
Share |
Readmore »

Selasa, 30 Juni 2009

WARGA TERLANTAR ASAL TOLI - TOLI

Mujid (61 thn) warga asal Toli - toli sudah 3 (tiga) hari terlantar di Kota Tarakan karena tidak memliki sanak keluarga, pekerjaan dan tempat tinggal dan pada hari ini selasa tanggal 30 Juni 2009 pukul 13.30 wita yang bersangkutan menuju Gedung Silver Kantor Redaksi SKH Radar Tarakan untuk memohon bantuan dan bantuan yang secukupnya telah diberikan pihak Radar Tarakan melalui salah satu stafnya menghubungi menghubungi Kantor Satpol PP Kota Tarakan karena Sdr. Mujid berharap dapat segera pulang ke kampung halamannya di Toli - toli.

Saat ini untuk sementara Sdr. Mujid yang di lahirkan pada tanggal 17 Agustus 1974 di Toli - toli berada di Kantor Satpol PP Kota Tarakan. " yang bersangkutan akan dipulang ke daerah asalnya di Kel. Nalu Kec. Baolan Kota Toli - toli menggunakan kapal penumpang KM. Tidar dalam waktu dekat, namun apabila ada yang merasa memiliki hubungan keluarga dengan Sdr. Mujid tersebut di harapakan dapat menghubungi Kantor Satpol PP Kota Tarakan melalui Telp. (0551) 32492 (24 Jam) " ungkap Dison, SH selaku Kasat PolPP Kota Tarakan.

KANTOR SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA TARAKAN MEWAKILI SAUDARA MUJID DAN KELUARGA MENGUCAPKAN RIBUAN TERIMA KASIH KEPADA PIHAK REDAKSI SKH RADAR TARAKAN ATAS BANTUAN YANG DIBERIKAN.



Readmore »

BERITA SATPOL PP KOTA TARAKAN ..............

PERSEMBAHAN: BLOG SATPOL PP KOTA TARAKAN